Cari Blog Ini

Selasa, 01 Desember 2015

Tersesat di Kebun Binatang

Liburan semester kali ini keluarga Lely akan pergi ke kebun binatang Tenjomoyo yang berada di Semarang. Dia merencanakan acara liburan ini dari tahun kemarin. Tahun kemarin dia tidak jadi pergi karena mobil sewaan yang ada di desanya sudah habis di sewa orang. Lely adalah siswa kelas 5 SD N 1 Kalipancur kecamatan Blado, kabupaten Batang. Lely menjadi juara kelas semester ini, jadi ini sekaligus hadiah buat dia. Dia sudah menabung selama setahun ini dan uang hasil tabungannya akan digunakan untuk berwisata ke kebun binatang. Ini adalah hari terakhir dia sekolah dan pengembalian raport karena mulai besok sudah libur panjang setelah ulangan semester. Sambil berjalan pulang Lely dan Dilah berbincang-bincang.
“Wah aku tidak sabar segera liburan dan pergi ke kebun binatang. Kamu mau berlibur kemana Dil?” ujar Lely.
“Aku ingin pergi ke pantai bersama ibu” jawab Dilah.
“Wah  asyik ya ke pantai. Aku juga dulu liburan ke pantai saat aku masih kelas satu” ujar Lely.
“Kamu ternyata juga sudah pernah ke pantai?, wah kamu sudah keman-mana ya” tambah Dilah.
“Iya dong. Aku kan rajin menabung dan aku kuambil sebelum liburan sekolah untuk berwisata” jawab Lely.
“Aku pulang dulu ya Lel, mau siap-siap” ujar Dilah tergesa-gesa.
“Aku juga mau siap-siap, hati-hati ya Dil. Selamat berlibur” tambah Lely.
Lely dan Dilah berpisah di persimpangan dan menuju ke rumah masing-masing. Mereka sama-sama akan berlibur tapi beda tujuan. Lely akan pergi ke kebun binatang dan Dilah berlibur ke pantai. Sesampai di rumah Lely sibuk mempersiapkan keperluan yang akan dibawa berlibur besok. Tas, baju, makan kecil dan lain-lain di persiapkan sebaik mungkin agar tidak ada yang ketinggalan. Ibunya mempersiapkan bekal makanan dan minuman yang akan dibawa.
“Ibu masak apa?” tanya Lely.
“Ibu masak lontong dan ayam goreng buat bekal besok” jawab ibu.
“Hemmm pasti enak sekali” ujar Lely sambil mencium bau ayam goreng.
“Ayo, kamu sudah siapkan semua perlengkapan buat besok?” tanya ibu
“Sudah semua bu, dari tas sampai baju ganti” jawab Lely dengan yakin.
“Kalau begitu sekarang bantu ibu menyiapkan makanannya buat besok” perintah ibu.
“Baik bu” jawab Lely.

Keesokan hari Lely bangun lebih awal daripada ibunya. Dia mandi lebih dahulu setelah itu membangunkan ibunya. Setelah Lely dan ibunya mandi mereka shalat subuh bersama di mushola. Pulang dari mushola Lely tidak menunggu ibunya tapi langsung pulang ke rumah. Lely segera mengganti baju dan menyiapkan barang-barang yang akan di bawa. Dia memindahkan barang-barang tersebut ke depan rumah. Setelah selesai semua dia istirahat dan duduk diantara tas dan barang-barang tersebut. Beberapa saat kemudian ibunya pulang dari mushola.
“Ayo bu, cepat ganti baju terus kita berangkat” seru Lely dengan tidak sabar.
“Sabar, mobilnya aja belum jemput, terus orang-orang yang akan pergi bersama kita juga belum siap semua” jawab ibunya dengan santai.
“Yah ibu, kok nyantai sih” tambah Lely
“Iya-ya ni mau langsung ganti baju” jawab ibunya sambil tersenyum agak meledek Lely.
Beberapa saat kemudian ibunya sudah ganti baju da siap beranngkat. Lely terlihat gelisah karena rombongan belum juga kumpul dan mobil juga belum datang. Satu per satu dia menjemput rombongan wisata di rumahnya masing-masing. Dia pun pulang setelah mondar-mandir menjemput orang-orang agar cepat berangkat dan berkumpul di rumahnya. Satu persatu orang kumpul dan menunggu mobil yang belum datang. Berapa menit setelah rombongan berkumpul mobilpun datang dan mereka berangkat.
Sesampainya di kebun binatang Lely langsung turun dari mobil dan berlarian kesana-kemari. Ibunya yang masih didalam mobil sibuk menurunkan barang-barang. Ibunya memerintakan Lely agar berkumpul dulu dengan rombongan agar tidak tersesat. Saking gembiranya Lely tidak menghiraukan nasehat ibunya. Ibunya masih sibuk dengan barang-barang dan bekal yang dibawa dari rumah. Saat itu kebun binatang penuh dengan pengunjung dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Lely tidak sadar kalau dia berpisah jauh dari rombongan. Di sisi lain ibunya masih berbincang dengan keluarga lain di tempat pertama kali turun. Kemudian ibu sadar kalau Lely tidak ada di dekatnya lagi. Setelah mengetahuai bawa Lely tidak ada, Ibu langsung mencari ke taman bermain dan berbagai sudut kebun binatang. Sesekali dia bertemu dengan rombongan lain dan meminta tolong membantu mencari Lely.
Panas matahari membuat Lely yang sudah lama bermain merasa capek. Dia sadar bahwa dirinya tersesat dan jauh dari ibunya. Lely mulai bingung dan panik dan berusaha mencari kesana-kemari ibu dan rombongannya. Setelah lama mencari dan dia tidak menemukan ibu ataupun rombongannya, Lely pun menangis karena bingung. Setelah lama dia menangis di antara kerumunan orang kemudian Lely di tolong petugas keamanan. Lely dibawa ke sekertariat kebun binatang dan di tanya nama dan asal dia. Setelah Leli memberikan informasi tentang identitasnya, petugas keamanan mengumumkan pada pengunjung melalui pengeras suara. Petugas membacakan nama dan asal Lely serta ciri-ciri pakaian yang dikenakan.
Ibunya segera menuju ke sumber suara atau pusat informasi setelah mendengarkan informasi tersebut. Sesampainya di sekertariat ibu menangis haru karena menemukan kembali Lely. Ibu kemudian menasehati Lely agar tidak berpisah lagi dengannya.
Liburan kali ini tidak hanya menyenangkan akan tetapi menegangkan sekaligus memberikan pembelajaran pada Lely agar lain kali tidak meninggalkan rombongan lagi.

Sabtu, 28 November 2015

Gemar Melukis

Ayah sering memarahi Andi ketika dia sering menggambar seusai belajar. Menurut ayahnya menjadi seniman atau pelukis adalah bakat yang tidak menjajikan untuk masa depan. Sedangkan ibunya sangat mendukung Andi dalam menggembangkan bakatnya dengan membelikan kuas dan cat air untuk melukis. Ayah Andi adalah seorang Akuntan dan dia sering meminta Andi agar meneruskan jejak ayahnya. Tetapi, Andi lebih suka menggambar alam dan objek yang ada di sekitar rumahnya. Ibu Andi adalah seorang desainer baju jadi sangat mendukung bakat Andi terebut.
Suatu saat Andi akan pergi menggambar dan secara sembunyi-sembunyi dia pegi dari rumah membawa alat lukis. Secara tidak sengaja ayahnya melihat dari belakang rumah. Ayah Andi mengghampirnya dan terus memarahinya dengan merebut alat lukis dan membuangnya. Ayah Andi lalu menasehati bahwa sebaiknya dia mengarjakan PR di rumah. Ibu Andi  yang mendengar ada ribut-ribut di belakang rumah lalu keluar dan menghampiri mereka berdua.
“Kamu tidak boleh melukis lagi,kamu harus lebih giat belajar pelajaran-pelajaran sekolah yang lebih sulit seperti matematika” dengan suara keras ayah Andi berbicara.
Andi hanya diam dan sangat sedih.
“Jangan sampai saya melihat kamu melukis lagi di rumah, ini yang terkahir” tambah ayah Andi.
Kemudian ibu Andi datang dan mengajak Andi masuk. Andi menangis dan memeluk ibunya.
“Bu aku lebih suka mengambar” ujar Andi sambil menangis.
Ibunya menyarankan Andi untuk bermain dengan temannya agar tidak sedih lagi.
Keesokan harinya Andi berangkat ke sekolah seperti biasa. Sesampainya di sekolah Andi dihampiri temannya Andi.
“Ndi, kamu ikut lomba menggambar dan mewarnai di sekolah ya?” Ujar Deni dengan senang.
“Aku tidak mau ah males.” Jawab Andi dengan nada sedih.
“Kenapa gambar kamu kan bagus.” Lanjut andi.
“Aku kemarin di marahi ayah karena ayah tidak suka aku menggambar lagi” jawab Andi dengan raut muka kecewa.
“Kamu itu berbakat dalam menggambar, jadi sayang kalau kamu tidak ikut lomba ini”. Ujar Deni.
“Kalau kamu jadi juara kamu pasti bisa membuktikan pada ayahmu bahwa kamu itu berbakat melukis.” tambah Deni.
Beberapa lama Andi terdiam dan berfikir. Andi berfikir benar juga apa yang dikatakan andi. Setelah sekian lama Andi terdiam lalu dia berdiri.
“Aku harus buktikan pada ayah kalau aku bisa menggambar dengan baik dan bisa jadi juara”. tegas Andi dengan semangat.
Andi dan Deni pun mendaftar ke panitia lomba. Setelah itu mereka kembali ke kelas  untuk mengikuti pelajarn seperti biasa.
Bel sekolah berbunyi tanda jam pelajaran selesai. Andi dan Deni pulang bersama. Sambil berjalan mereka membicarakan soal perlombaan menggambar di sekolah mereka.
“Kamu harus jadi juara, karena pemenangnya akan mewakili sekolah kita dan berlomba di Jakarta”. ujar Deni.
“Wah yang benar kamu Den?” tambah Andi.
“Iya benar ini kan dalam rangka memperingati hari anak nasional” ujar Deni meyakinkan.
“Kalau begitu aku harus latihan dan bersungguh-sungguh untuk lomba besok” ungkap Andi dengan semangat.
 Mereka pun berpisah pulang ke rumah masing-masing. Andi menceritakan tentang perlombaan lukis yang akan diselenggarakan sekolahnya itu dan dia menagatakan kalau dirinya sudah mendaftar menjadi salah satu pesertanya. Ibunya kaget dan menyarankan pada agar tidak menceritakan hal itu pada ayahnya untuk sementara waktu. Andipun mengikuti saran dari ibunya untuk tidak menceritakan pada ayahnya.
Keesokan harinya Andi berngkat sekolah seperti biasa dengan perasaan gembira. Setelah berpamitan dia berngkat ke sekolah berjalan kaki. Ayahnya heran pada Andi, tidak biasa-biasanya Andi segembira itu.
“Bu, lihat Andi kok  senang sekali ya hari ini?” tanya ayahnya dengan perasaan heran.
“Sudahlah aku biarkan saja, daripada sedih terus” jawab ibu Andi
Sesampainya di sekolah Andi bertemu dengan Deni. Dia memberikan semangat pada Andi. Andi memulai menggambar rumah dan suasana sekitarnya. Peserta yang lain menggambar pemandangan gunung dan pemandangan alam.
Teeeet.....teeeet.....
Bel tanda selesainya lomba terdengar, semua peserta menninggalkan gambar mereka dan mennunggu hasil penilaian di luar ruangan. Andi keluar dengan perasaan campur aduk. Deni dan temen-temannya terus memberikan semangat dan menghibur Andi agar tenang. Para juri yang terdiri dari beberap guru itu keluar dari ruang kelas. Mereka pergi ke ruang guru dan salah satu dari mereka berkata.
“Pengumuman pemenang akan kami bacakan lewat pengeras suara dari ruang guru” ujar salah satu guru.
Beberapa saat setelah semua juri ke ruang guru, pengumuman pemenang lombapun terdenagar.
“Hasil dari lomba menggambar yang diadakan SD Suka Bakat kelas 4 adalah atas nama Andi Priagung .Ananda Andi dimohon segera ke ruang guru” ujar salah satu guru yang menjadi panitia lomba melukis melalui pengeras suara.
“Hore hore hore “ teriak Andi dan teman-temannya kegiranagan.
“Ayo Ndi kamu ke ruang guru” perintah Deni
“Iya-iya “ jawab Andi dengan gembira.
Andi bergegas pergi ke ruang guru. Sesampainya di ruang guru andi di beri ucapan selamat dan diberi hadiah serta piagam.
“Kamu nanti akan mewakili sekolah kita lomba menggambar di Jakarta atau tingkat nasional” ujar wali kelas Andi.
“Baik pak, tapi saya minta bantuan bapak” kata andi.
“Memangnya kenapa Ndi?” tanya wali kelasnya.
Kemudian andi menceritakan semua permasalahan pada wali kelasnya. Setelah mendengarkan cerita Andi wali kelas berrjanji akan membantu Andi membicarakan hal itu pada ayahnya.
“Nanti sepulang sekolah kamu pulang bareng saya, sekalian saya mau bertemu ayah kamu”ujar wali bapak kelas.
“Baik pak” jawab Andi penuh harapan.
Andi dan Pak Umar, wali kealsnya pulang berboncengan menuju ke rumah Andi. Sesampai di rumah Andi Pak Umar menjelaskan semuanya pada ayah Andi. Ayahnya merasa kaget sekaligus terharu mendengar cerita Pak Umar tentang keberhasilan Andi. Akhirnya ayah pun memperbolehkan Andi ikut lomba mewakili sekolahnya ke Jakarta. Andi pun berterima kasih pada ayah,ibu dan Pak Umar karena mereka semua mendukung bakatnya.

Kamis, 26 November 2015

Gara-gara Koran bekas bisa juara kelas

Andi terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan Andi ini tinggal didesa yang terpencil yang jauh dari keramaian kota. Dia juga harus membantu orang tuanya bekerja mencari barang rongsokan untuk biaya hidup dan sekolahnya. Andi sering terlambat sekolah karena tidur larut malam untuk membantu ayahnya memilih rongsokan yang masih bisa dipakai. Tiap malam Andi tidak melupakan kewajibannya untuk belajar dan mengerjakan PR. Walaupun dengan fasilitas belajar yang serba minim Andi tetap semangat belajar.
Pada suatu malam seperti biasa Andi membantu ayahnya memilih barang-barang rongsokan untuk dijual kembali.
“Ayo Andi belajar sana lalu tidur, besok kan kamu harus sekolah” kata ayahnya sambil memilih rongsokan.
“Iya ayah sebentar lagi” jawab Andi.
“Sudah sana belajar nanti kamu terlambat lagi”saut ibunya sambil mendekat dan mengusap-usap kepalanya.
“Baik bu” jawab Andi sambil bergegas pergi ke kamar.
Andi pergi ke kamar dan mulai belajar serta mengerjakan PR tugas tadi siang. Setelah belajar dan mengerjakan PR selama satu jam Andi melanjutkan membaca koran-koran bekas yang ditempel di dinding. Koran bekas tersebut ditempelkan agar angin dari luar rumah tidak masuk dan tidak terasa dingin saat tidur. Tiap mau tidur Andi membaca potongan-potongan koran yang menempel tersebut. Dia dapat pengetahuan baru dari koran bekas tersebut.
Sebelum tidur Andi menyiapkan buku yang akan dibawa besok.
Kukuruyuuuuuuk!!!!!!!
Suara ayam di pagi hari, sementara Andi masih terlelap tidur karena terlalu cape semalam dia belajar hingga larut malam dan sebelumnya membantu ayah.
Ibu Andi menghampiri ke kamar lalu membangunkan Andi.
“Andi ayo bangun sudah pagi” perintah ibunya sambil membuka jendela kamar Andi.
“Iya bu” saut Andi kaget lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Sebelum mandi dia menimba air untuk mengisi bak air. Setelah bak terisi penuh Andi lalu mandi.
Setelah mandi dia berganti baju seragam sekolah dan sarapan dengan nasi dan lauk sisa tadi malam.
Kemudian Andi berpamitan dan berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.
Desa sumber makmur ini hanya mempunyai satu Sekolah Dasar  teman-teman Andi pun berasal dari kampungya sendiri. Andi termasuk anak yang pandai di kelasnya. Setiap  kali temannya mengalami kesulitan dalam pelajaran dia dengan senang hati membantu setelah itu Andi menyarankan temannya agar belajar lebih giat lagi.
Hari inisudah tidak ada lagi kegiatan belajar mengajar karena minggu lalu sudah diadakan ulangan semesteran. Murid-murid hanya bermain-main didepan kelas atau di ruang kelas. Sebelum mereka pulang sekolah satu per satu mereka akan diberi surat yang ditujukan pada orang tua murid agar besok mengambil rapor. Andi pun segera pulang kerumah dan menyerahkan surat tersebut agar dibaca sang ayah.
“Aku jadi tidak sabar untuk melihat hasil ulangan dan belajar saya selama satu semester ini?” kata adi sambil mnyerahkan surat tersebut pada ayahnya.
“Iya ayah juga tidak sabar untuk melihat hasil belajar kamu” saut ayah.
“Kalau sampai nilaimu jelek, kamu harus belajar lebih giat lagi” tambah ibunya.
“Baik bu”. Jawab Andi
Keesokan harinya ayah Andi yang biasanya mencari rongsokan digantikan ibunya dan Andi. Ayah berangkat ke sekolah untuk mengambil rapor Andi. Sesampainya di sekolah ayah Andi duduk dibelakang diantara orang tua murid yang lain. Sebelum dibagi rapornya wali kelas menyampaikan juara kelas semeter ini.
“Saya akan menyampaikan juara kelas semester ini sekaligus orang tua murid maju   mengambil rapornya” wali kelas sebelum membagikan rapornya.
“Juara kelas semester ini adalah Andi Kurniawan, silahkan orang tua Andi maju” ujar wali kelas.
Ayah Andi maju kedepan kelas dan mengambil rapor. Orang tua yang lain heran karena Andi dari keluarga yang tidak mampu dan tidak mempunyai fasilitas belajar yang lebih seperti teman-temannya tetapi bisa menjadi juara kelas.
“Selamat ya pak putra anda rangking pertama” ucapan dari wali kelas.
“Terima kasih pak, itu semua berkat bimbingan bapak” jawab ayah Andi merendah.
Setelah acara penerimaan rapor selesai ayah Andi dipanggil ke ruang guru.
Dia lalu bergegas pergi ke ruang guru.
“Bapak memanggil saya?” tanya ayah Andi.
“Iya pak, tolong bapak perhatikan terus perkembangan Andi agar prestasinya bisa terus dipertahankan” saran wali kelas.
“Baik pak, pasti akan saya pantau terus” ujar ayah Andi.
Pulanglah ayah Andi kerumah seusai pertemu dengan wali kelas. Beberapa saat setelah ayah pulang ibu dan Andi pulang.
Walaupun wajah terlihat capek dan masih berkeringat Andi langsung menghampiri ayahnya dan bertanya.
“Bagaimana hasil rapor saya Ayah?’ tanya Andi dengan cemas.
“Kamu jadi juara kelas, nak” jawab ayah dengan bangga.
“Hore hore hore” sambil meloncat-loncat kegirangan Andi keluar rumah.
Itulah ekspresi kegembiraan Andi setelah sekian lama tidak jadi juara kelas dari kelas satu sampai kelas tiga. Andi mengetahui betapa pentingnya belajar baru-baru ini, karena dulu Andi sering tidak belajar dan membaca. Andi menceritakan pada ayah dan ibunya bahwa dia bisa juara kelas karena sering membaca koran bekas yang ada di dinding kamarnya. Ternyata semua mata pelajaran yang ada di sekolah banyak tertulis disana. Banyak pengetahuan baru yang ada di koran tersebut. Ayah dan ibunya manasehati Andi agar terus membaca dan giat belajar lagi agar menjadi juara kelas dan jadi orang yang pandai dan berguna.

Selasa, 24 November 2015

wisata ke bandara

Hari ini adalah hari Minggu, Roy bangun pagi-pagi buta karena akan pergi ke Semarang. Roy adalah siswa kelas 4 SD Negeri Wonokerso. Hari ini dia berencana ikut ayahnya melihat pesawat terbang di bandara. Ayahnya mengajak Roy karena selama ini dia belum pernah melihat pesawat secara langsung dan hari libur kali ini adalah kesempatan untuk mengajak Roy ke Bandara. Ayah Roy adalah seorang supir yang biasa mengantar orang-orang yang akan pergi ke luar kota. Hari ini ayahnya akan pergi ke Semarang untuk mengantar rombongan yang akan ke Bandara Ahmad Yani. Mereka adalah orang-orang yang akan pergi keluar negeri untuk bekerja atau disebut sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Semua bekal dan perlengkapan yang akan dibawa Roy telah disiapkan oleh ibunya di dalam tas sekolahnya.
“Pak, ayo berangkat aku sudah siap” teriak Roy sambil menarik baju ayahnya.
“Ya sebentar kita menunggu orang yang akan kita antar” jawab ayahnya sambil melihat kearah jalan.
Beberapa saat kemudian rombongan orang yang di tunggu datang.
“Maaf pak Daroji kami terlambat, karena baru masak lontong dulu untuk bekal nanti” ujar  Muji ketua rombongan.   
“Ya, tidak apa-apa saya takut kalau terlambat nanti ketinggalan pesawat”  jawab Daroji ayah Roy.
Roy ikut pak?” tanya Muji.
“Iya, dia ingin melihat pesawat terbang secara langsung” jawab Daroji.
“Ayo kita berangkat sekarang! mumpung masih pagi” tambah Daroji.
Maklumlah kenapa pak daroji memerintahkan rombongan itu lebih cepat karena jaraknya yang jauh. Jarak antara rumah Roy ke Semarang atau Bandar Udara Ahmad Yani adalah 100 Km atau memakan waktu 2 jam perjalanan. Karena masih terlalu pagi dan kenyang setelah sarapan, Roy mengantuk dan tertidur lagi di dalam mobil. Sesampai di semarang Roy masih tertidur. Pak Daroji membangunkan Roy agar bisa melihat pesawat terbang dari dekat.
“Bangun-bangun sudah sampai di Semarang” ujar ayahnya sambil membangunkan Roy.
“Eeeehhh…ya pak.”saut Roy kaget sambil mereganggkan badan.
“Ayo cepat! Mau lihat pesawat terbang tidak?” tambah ayahnya agar Roy bergegas keluar dari mobil.
“Tunggu aku ayah” jawab Roy sambil berlari kearah ayahnya.

Daroji dan Roy berjalan masuk ke bagian pemberangkatan penumpang. Petugas bandara melarang karena mereka tidak akan naik pesawat. Mereka pun keluar dari ruang tunggu tersebut. Roy dan ayahnya berjalan keluar dengan wajah kecewa. Tiba-tiba seseorang  memberitahu kalau mereka bisa melihat pesawat terbang dari samping landasan pesawat. Mereka pun bergegas mencari lokasi yang dekat dengan landasan. Ternyata bagi orang-orang yang akan melihat pesawat terbang lepas landas ada tempatnya sendiri. Di bandara Ahmad Yani Semarang tempat tersebut adalah bagian dari wisata dan pengunjung dikenai biaya sebesar Rp. 1000, - per orang.
Beberapa saat mereka mengamati pesawat lepas landas atau terbang dari lapangan terbang. Roy mengamati proses pesawat-pesawat itu terbang baik take off (pesawat tinggal landas) ataupun  landings (mendarat). Setelah puas dia mengajak ayahnya keluar dari lokasi tersebut dan meminta agar ayahnya membeli cemilan dan buku tentang pesawat terbang.
“Pesawatnya besar-besar ya yah!” seru Roy dengan terkagum-kagum.
“Iya kan kita melihatnya dari dekat” jawab ayahnya.
“Ayah nanti aku di belikan buku tentang pesawat terbang ya?” Ujar Roy sambil memandang ayahnya.
“Iya nanti ayah belikan” jawab ayahnya.
“Asiiiik!!! Aku dibelikan buku tentang pesawat terbang” seru Roy kegirangan.
“Sampai rumah bukunya di baca untuk belajar” perintah ayahnya.
“Pastinya ayah, cita-citaku ingin jadi pilot hebat” jawab Roy dengan senang.
“Tapi sebelum beli buku,aku ingin jajan yah” tambah Roy.
“Kamu tuh selalu jajan dimanapun tempatnya” jawab ayahnya
“Ya sudah, sekarang kita keluar dari sini lalu beli buku dan jajan” tambah ayahnya
“Oke ayah” jawab Roy
Setelah membeli cemilan dan buku, Roy memakan cemilannya di dalam mobil sambil menunggu rombongan. Roy merasa lelah serta kenyang setelah melihat pesawat terbang dan memakan cemilan. Lagi-lagi dia tertidur di mobil, sementara ayahnya duduk disampingnya. ayahnya merasa bahagia karena Roy terlihat sangat gembira hari ini. Sesampainya di rumah
Roy terbangun. Disampingnya, ada buku tentang pesawat terbang yang dia beli. Roy membaca buku tersebut dan melihat gambar-gambar pesawat terbang. Keesokan harinya dia pergi ke sekolah dan membawa buku tentang pesawat terbang itu. Roy bertemu dengan teman-temannya dan menceritakan pengalamannya kemarin melihat pesawat terbang dari jarak dekat.

Senin, 23 November 2015

ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

Teng teng teng...


    Semua murid keluar dari ruang kelas dan bergegas pulang. Hari ini Adi, Ani, Bayu dan Sinta berencana pulang bareng. Mereka berempat satu kelas dan berencana belajar kelompok sepulang sekolah di rumah Adi. Mereka akan mengerjakan pekerjaan rumah yaitu mencari tokoh-tokoh dunia yang menemukan alat-alat atau ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.
Sebelum mereka belajar kelompok mereka pulang ke rumah dahulu untuk ganti baju dan minta izin dengan orang tua. Mereka berkumpul di rumah Adi jam 1 siang, Adi, Ani dan Sinta sudah berkumpul hanya Bayu yang belum terlihat. Sembari menunggu Bayu datang mereka berandai-andai tentang tokoh-tokoh dan alat-alat apa yang akan mereka jadikan laporan nantinya.

“Siapa ya kira-kira tokoh yang paling hebat dengan alat penemuannya?” tanya Adi.
“Thomas Alfa Edision yang menemukan listrik dong! berkat beliau kita jadi mudah  mengerjakan PR pada malam hari karena ada listrik” jawab Ani.
“Kalau aku Alexander Graham Bell penemu pesawat telepon, karena dengan adanya telepon kita bisa berbicara dengan orang yang sangat jauh sekalipun” tambah Sinta.
“Kalau aku lebih suka Oto sang penemu mesin mobil, karena berkat jasa beliau kita bisa pergi jauh tanpa jalan kaki atau tidak lelah” jawab Adi.

Ketiga anak itu asyik membahas tentang pekerjaan rumah mereka dan satu per satu mereka memutuskan untuk membuat rangkuman tentang tokoh dan hasil penemuannya. Setelah mereka memutuskan menulis masing-masing tokoh yang mereka akan jadikan laporan, Bayu datang.  Bayu datang dengan nafas terengah-engah dan keringat bercucuran.
“Maaf  teman-teman saya terlambat” kata Bayu.
“Kenapa kamu terlambat, Bayu?” tanya Adi.
“Saya terlambat karena tadi membantu ayah mngisi air di bak mandi, ayah yang menimba air aku yang memindahkan air ke bak mandi” jawab bayu.
“Oh begitu, ya sudah sekarang kamu berfikir siapa tokoh dan hasil penemuannya yang akan kamu laporkan?” tambah Adi.
“Saya ingin membuat laporan tentang penemu pompa air” jawab Bayu.
“Memangnya kamu tau siapa namanya?” Tanya Sinta.
“Kita kan bisa cari itu di internet” jawab Bayu.
“Oh iya yah..kita juga dapat nama tokoh-tokoh itu dari cari-cari di internet kemarin!” tambah Ani.
“Kalau begitu saya akan ke balai desa dulu mau cari penemu mesin pompa air di sana, setelah selesai saya ke sini lagi” ucap Bayu sambil bergegas pergi.

    Bayu pergi ke balai desa, karena hanya ada satu internet di desa mereka dan itu hanya ada di balai desa. Internet bantuan dari pemerintah itu dimanfaatkan oleh masyarakat di desa tersebut untuk fasilitas belajar bagi anak-anak sekolah dan mencari pengetahuan bagi orang dewasa. Adanya internet di desa mereka membantu masyarakat mengetahui segala hal dari ilmu pengetahuan, berita, kirim e-mail (surat elektronik) dan maih banyak lagi kegunaannya.
Setengah jam kemudian Bayu kembali ke rumah Adi dan langsung membuat laporan hasil penemuannya di internet.

Siapa penemu mesin pompa air bayu?” tanya Sinta.
“Otto Von Guericke pada tahun 1654” jawab Bayu.
“Mesin pompa air ini berguna agar saya tidak lagi capek-capek menimba air” tambah Bayu.
Mereka semua melanjutkan membuat laporan tentang tokoh dan hasil penemuannya. Beberapa lama kemudian mereka semua telah menyelesaikan membuat laporan dan bergegas pulang kerumah masing-masing.

Kamis, 19 November 2015

Belajar Komputer

Shodikin adalah orang desa yang tidak tahu menahu mengenai komputer. Pekerjaannya sehari-hari adalah sebagai pedagang kayu sengon. Suatu ketika Shodikin memberikan pinjaman uang pada pedangang kayu yang bernama Uli . Pedagang tersebut  membeli kayu dan rencananya akan dijual lagi. Setelah di hitung-hitung, antara pembelian dan penjualan kayu ternyata pedagang tersebut mengalami kerugian. Karena rugi, pedagang tersebut mengulur waktu pengembalian uang pada Shodikin.
Beberapa bulan kemudian Shodikin memerlukan uang untuk modal dagangan kayu dan meminta pada Uli atau pedagang yang pinjam uang tersebut. Uli menagatakan kalau dirinya belum mempunyai uang dan itu terus menerus di ucapkkannya ketika ditagih. Shodikin merasa dirinya di tipu lalu dia berinisiatif mengambil komputer milik Uli sebagai jaminan utangnya. Uli  pun setuju karena merasa dirinya tidak mampu membayar utang pada Shodikin.
Keesokan harinya Shodikin bingung, mau diapakan komputer ini?. Dia yang hanya lulusan STM jaman dahulu tidak mengerti mengenai komputer.Di rumahnya komputer itu di biarkan tergeletak dan jarang di pakai. Aziyah adiknya yang masih duduk di kelas 1 SMP sedikit mengetahui cara menghidupkan komputer dan bermain game. Setiap kali aziyah ke rumah kakaknya dia selalu menghidupkan komputer dan bermain-main.
Suatu ketika Shodikin bertanya pada aziyah mengenai cara membuat Facebook atau menggunakan internet. Rupanya dia juga penasaran dan ingin tahu bagaimana cara menghidupkan dan menggunakan komputer. Aziyah pun menjelaskan apa itu komputer dan apa saja perangkatnya.
Dik, aku ajari cara menggunakan komputer ya?” ajak Shodikin merayu adiknya.
“Aku juga masih belajar mas” jawab aziyah
“Ya tidak apa-apa semampu kamu saja” ujar Shodikin
“Kalau semampuku aku bantu mas” jawab aziyah
Kemudian sesi latihan pun dimulai dari menjelaskan bagian-bagian komputer. Monitor adalah bagian komputer yang berfungsi untuk meampilkan gambar atau proses yang sedang berjalan. Bagian CPU berbentuk kotak persegi panjang yang berfungi untuk mesin pengolah program atau bagian yang paling penting dari komputer. Bagian keyboard berfungsi sebagai tombol-tombol yang digunakan untuk memerintah jalannya komputer. Bagian mouse atau alat yang menyerupai tikus berfungsi sebagai penunjuk atau juga sebagai yang memerintah selain keyboard.
Penjelasan yang begitu singkat tersebut membuat Shodikin lebih mengerti sedikit tentang komputer. Dia menganguk-anggukan kepala tanda mengerti. Setelah di jelaskan bagian-bagiannya kemudian Aziyah menjelaskan bagaimana cara menghidupkan komputer. Beberapa saat melihat dan mendengar penjelasan dari aziyah kemudian Shodikin mencoba mengoprasikannya. Mula-mula dia masih takut dan ragu cara-cara mengoprasikan komputer. Lama- kelamaan dia bisa mengoperasikan komputer walau hanya main game dan belajar mengetik.
“Sekarang saya sudah tahu sedikit tentang komputer” ujar Shodikin
“Kakak haus lebih giat belajar lagi agar lebih mahir mengoprasikan komputer” tambah aziyah.
“Benar juga ya, setelah bisa komputer aku akan memasarkan kayu-kayu lewat internet” ujarnya walau hanya baru mengetahui internet lewat Televisi.
Waktu berjalan, sementara Shodikin ikut kursus komputer dan belajar menggunakan internet. Beberapa bulan kemudian dia bisa mengoperasikan komputer berkat niat dan usahanya untuk lebih mengembangkan penjualan kayu sengon miliknya. Ide untuk memasarkan kayu-kau lewat internet di wujudkan dengan membuat situs di sebuah website. Usaha Shodikin pun tak sia-sia berkat komputer dan internet usaha kayunya semakin berkembang dan sukses.

Rabu, 18 November 2015

praktek pembelajaran TIK


mading kreasi SMP N 2 Bandar

para siswa sedang mempersiapkan bahan yang akan dipasang dalam mading kreasi.

kegiatan di perpustakaan

perpustakan digunakan sebagai tempat pembelajaran selain sebagai tempat membaca dan mencari referensi pelajaran

senam tiap hari jumat

senam pagi dilaksanakan tiap hari jumat pagi. semua warga sekolah mengikutinya baik guru, TU maupun siswa. semua bersemangat melaksanakan kegiatan ini.

prestasi SMP N 2 BANDAR


kunjungan guru mapel bahasa indonesia ke balai bahasa jakarta


silaturahmi ke salah satu guru SMP N 2 Bandar


Ayo Lari Pagi



Keluarga Pak Rahmat adalah keluarga yang menyukai olahraga kecuali Santi, anaknya. Ayahnya mantan atlet nasional cabang olahraga bulu tangkis. Ibunya adalah guru olahraga di SD dimana Santi juga bersekolah yaitu SD Negeri 1 Sukamaju. Kakak Santi sangat menyukai bermain sepak bola.

Setiap minggu pagi, ayah, ibu dan kakak Santi lari pagi dan hanya Santi yang tidak ikut. Alasannya karena dia males bangun pagi. Selain itu dia trauma dengan lari pagi karena dulu secara tidak sengaja dia mengalami kecelakaan terserempet mobil. Beberapa kali ayah dan ibu membujuk Santi untuk lari pagi tetapi dia selalu menolak. Ayah dan ibunya melihat bahwa tubuh Santi sudah terlalu gendut untuk itu mereka menaganjurkan dia agar berolahraga. Bukan hanya tubuh Santi yang sudah gendut tetapi dia jadi gampang terserang penyakit.

Beberapa bulan kemudian tubuh Santi semakin membesar dan sering tidak masuk sekolah karena sakit. Santi tetap saja tidak mau berolahraga atau hidup sehat dengan makan-makanan bergizi. Dia memang mempunyai kebiasaan buruk yaitu sering ngemil sehabis makan dan sebelum tidur. Cemilannya pun tidak sehat. Dia suka sekali dengan makanan-makanan ringan yang berwarna-warni dan mengandung banyak bahan penyedap rasa atau MSG (Monosodium Glutamate). Sudah berkali-kali ibunya menjelaskan pada Santi bahwa makanan yang berwarna-warni banyak mengandung bahan pewarna dan tidak baik untuk kesehatan. Mengkonsumsi makanan dengan bahan pewarna yang berlebihan dan mengandung banyak penyedap rasa dalam jangka panjang akan menyebabkan penyakit-penyakit yang berbahaya seperti, gangguan pencernaan bahkan kanker. Tetapi Santi tetap tidak memperdulikan hal itu.

Suatu pagi Santi berangkat sekolah seperti biasa. Sesampainya di sekolah Santi di tegur oleh gurunya karena sering ketinggalan pelajaran.Bu guru memberi nasehat Santi agar selalu memperhatikan kesehatan agar jarang bolos sekolah gara-gara sakit.Sejak kejadian itu Santi jadi pendiam dan tidak mau berteman dan menyendiri. Dia merasa bahwa apa yang telah dikatakan ibunya benar. Ani, teman baiknya pun mencoba menasehati dia agar tidak bersedih lagi. Ani memberikan semangat pada Santi agar dia tidak malu lagi. Ani manyarankan Santi agar lari tiap pagi atau berolahraga. Santi kemudian menceritakan semua pada Ani kenapa dia jadi gendut dan sering sakit. Setelah menceritakan semua kejadian, Ani paham kalu itu semua karena Santi trauma.

“Baiklah mulai sekarang aku mau bantu kamu agar tidak takut lari pagi”. Janji Ani pada Santi

“Terima kasih Ani, kamu sahabatku yang paling baik”. ujar Santi

“Itulah gunanya seorang sahabat San” tambah Ani dengan senyum ketulusan.

Mereka berdua masuk ke dalam kelas lagi karena bel tanda masuk sekolah telah berbunyi. Seusai pulang sekolah Santi bertemu ibunya dan menceritakan semua kejadian tadi pagi. Ibunya merasa simpati dan menasehati Santi agar mau olahraga lagi.

“Berarti mulai minggu pagi kamu ikut ayah, ibu dan kakak lari pagi” ujar ibunya sambil mengusap-usap rambut Santi.

“Akan Santi coba mulai lagi untuk rutin olahraga” jawab Santi.

Santi kemudian memulai lari-lari kecil di depan rumah keesokan harinya. Ayah dan ibunya ikut mendampingi dia dan memberi semangat.

“Ayo san, lebih kencang lagi larinya” ujar ayahnya

“Saya sudah tidak kuat lagi yah sudah capek” jawab Santi sambil terengah-engah.

Baru beberapa saat Santi berhenti dan beristirahat. Kemudian ayahnya menghampiri Santi.

“Ya sudah kalu memang tidak kuat istirahat dulu” ujar ayahnya.

“Jangan dipaksakan nanti kamu pingsan” tambah ibunya.

Kemudian Santi beristirahat dan mengambil minuman. Setelah istirahat kemudian Santi beranjak dari tempat duduknya menuju kekamar mandi. Selesai mandi Santi ganti baju dan sarapan. Dia merasa berbeda, tidak seperti hari biasanya. Dia merasakan pagi ini lebih semangat dari hari-hari bisanya.

“Seger sekali saya pagi ini” ujar Santi

“Makanya kamu harus sering lari pagi agar tubuh kamu sehat dan tidak gendut dan gampang sakit lagi” ujar ayahnya.

“Jangan lupa untuk selalu makan-makanan yang bergizi dan tidak boleh ngemil terlalu banyak” tambah ibunya.

“Baiklah, mulai sekarang aku akan hidup sehat” ujar Santi sambil beranjak dan pamit berangkat sekolah.

Sesampainya di sekolah Santi bertemu Ani dan menceritakan kejadian tadi pagi. Ani ikut senang karena Santi tidak murung lagi. Setiap pagi Santi rutin lari pagi bersama ayah, ibu dan kakaknya. Santi juga tidak melakukan kebiasan buruk ngemil jajanan yang tidak sehat. Beberapa bulan kemudian badan Santi sehat dan tidak terlalu gendut. Santi benar-benar senang dan menceritakan semuanya pada Ani yang selalu mendukung dan memberi semangat.

Hal yang tak terlupakan saat Masa pengenalan sekolah baru

Berbagai hal sudah disiapkan untuk sekolah baru. Sepatu baru, tas baru, seragam baru dan semua hal yang baru. Sekolah baru adalah hal yang m...